Seorang dokter spesialis baru saja tiba di rumah sakit ternama tempatnya bekerja. Ia baru saja mendapat panggilan mendadak untuk operasi terhadap seorang pasien.
"Pak dokter. Kenapa telat datang?!!! Anak saya sedang sekarat. Punya perasaan nggak sih?!!!" Demikian seorang bapak menghujani sang dokter dengan wajah memerah dan emosi saat sang dokter berada di depan ruang operasi.
"Saya berharap bapak tenang. Biarkan saya melakukan operasi. Percayalah bhw Allah menjaga putera bapak." Jawab sang dokter dengan tenang. Wajahnya teduh.
"Anda bilang tenang sementara anak saya sekarat?!!! Apa anda bisa tenang seandainya anak anda sakit?? Kok enak banget nasehatin orang!!!."
Dokter itu pun segera meninggalkan bapak itu dan memasuki ruang operasi.
Dua jam berlalu dan operasi telah usai.
"Alhamdulillah pak, operasi telah usai. Anak bapak selamat dan baik-baik saja. Maaf pak, saya permisi dulu harus pergi karena ada agenda lain di luar." Ungkap sang dokter dan segera meninggalkan bapak itu tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
Seorang perawat keluar dari ruang operasi dan bapak tadi melontarkan sebuah pertanyaan dengan ketus:
"Kok bisa ya ada dokter begitu?!!!!"
Sang perawat menjawab:
"Maaf pak. Anak pak dokter meninggal akibat kecelakaan mobil. Walaupun begitu beliau bersedia meluangkan waktu untuk memimpin operasi menyelamatkan anak bapak. Dan sekarang, setelah operasi ini, beliau akan menghadiri pemakaman anaknya."
----
Dalam hidup ini, akan selalu ada sosok berhati mutiara. Ia tak mengeluh atas musibah, tak marah atas sebuah tuduhan dan menyelematkan orang lain. Uniknya, setelah itu, ia memilih diam di balik teduh wajahnya.
■Diterjemahkan dan dikembangkan dari page Rawa-i'ul Fikr
■Penerjemah: Yani Fahriansyah

0 comments:
Post a Comment